NAMA : FAHRIDA RAHMAWATI
ULA
NIM : 13040111130130
ESSAY TENTANG ESQ
Otak
manusia terdiri dari 2 bagian. Yaitu otak kanan dan otak kiri. Namun demikian,
otak manusia di dominasi oleh otak kiri yaitu dengan presentase 75%-80%. Pada umumnya orang yang kemampuan otak
kirinya berjalan dengan baik memiliki beberapa ciri sebagai berikut :
•
Mempunyai kemampuan
matematika
•
Bahasanya sangat bagus
•
Sering dianggap sebagai anak
pintar
Ada dua jenis otak. Yaitu otak rasional, dan otak emosional.
•
Otak rasional
Adalah otak yang berpusat pada kulit otak,
berkaitan dengan berfikir rasional, seperti berhitung, memecahkan
masalah dan lain sebagainya.
•
Otak emosional
Adalah otak yang berpusat di sistem limbik, mengurusi soal perasaan yaitu bagaimana
kita mengusai diri, mengendalikan dan bertindak sesuai kadarnya agar
tidak menimbulkan satu masalah baru.
Berbicara tentang otak yang biasanya di identikkan dengan kemampuan
berfikir atau IQ yang pada umumnya mencerminkan kecerdasan, kecerdasan manusia itu sendiri dibagi menjadi 4. Yaitu :
1.
Pikiran. Atau sering disebut
sebagai kecerdasan intelektual. (IQ)
2.
Perasaan. Atau
Kecerdasan Emosi (EQ)
3.
Keyakinan. Atau Kecerdasan Spiritual (SQ)
4.
Semangat. Atau Kecerdasan
Adversity (AQ)
KONSEP KECERDASAN
DALAM PSIKOLOGI
1. Interaksi dengan informasi
Ø INTELEKTUAL = DAYA NALAR
KREATIVITAS
2.
Interaksi dengan orang lain
Ø EMOSI = PENGENDALIAN DIRI , EMPATI
3.
Interaksi dengan Tuhan
Ø
SPIRITUAL = KEYAKINAN
(FAITH)
INTEGRITAS & KOMITMEN
4.
Interaksi dengan diri
sendiri
Ø ADVERSITY = HARDINESS
DAYA
TAHAN (ENDURANCE)
1.
Kecerdasan emosi (Emotional Quotient)
Kemampuan
untuk mengenali, mengendalikan, mengelola serta memanfaatkan perasaan diri
untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai.
Dimensi kecerdasan
emosi.
1. Kenalilah emosi diri
Saat sebuah peristiwa terjadi kita bise merasakan marah, sedih, senang, bahagia, frustrasi,
jatuh cinta dan lain sebagainya. Yang sebaiknya kita laukan adalah.
•
Gambarkan perasaan tersebut
•
Kenalilah reaksi tubuh yang
muncul
•
Hargai emosi tersebut karena
itu adalah keunikan anda
Mengenali diri adalah syarat mengelola emosi.
Ketidakmampuan untuk mengenali perasaan membuat kita berada dalam
kekuasaan emosi, artinya kita kehilangan kendali terhadap perasaan kita yang
akan membuat kita kehilangan kendali atas diri dan hidup kita.
2. Mengelola dan Memanfaatkan Emosi.
Setiap emosi memiliki
fungsi yang unik dan terkait dengan kelangsungan hidup manusia. Misalnya :
•
Emosi Marah à Mempertahankan Diri
•
Emosi Sesal à Perbaikan Diri
•
Emosi Senang à Menciptakan kebahagiaan
•
Emosi Malu à Meningkatkan Moral
Terdapat dua pilihan dalam point
ini. Emosi tersebut akan dikelola atau dimanfaatkan, atau emosi tersebut ingin
di tekan atau dilampiaskan. Nah, apabila point pertama yang terpilih, yaitu
mengelola serta memanfaatkan emosi yang ada dalam diri kita, maka yang muncul
sebagai akibatnya adalah kehidupan yang harmonis, disenangi orang lain, serta
tujuuan akan tercapai. Namun apabila emosi tersebut ditekan ataupun
dilampiaskan, maka yang akan didapat adalah justru akan menimbulkan penyakit,
dihindari orang lain, serta tujuan yang tidak tercapai.
Namun biasanya yang
dilakukan oleh manusia ketika mereka dikuasai emosi adalah :
- Melarikan diri dari masalah
- Minimalisasi/menyepelekan
- Menyalahkan orang lain
- Selalu Menyangkal
- Menyalahkan diri sendiri
- Tidak dapat Berpikir Jernih
Maka, hargalah
emosi. Senang atau sedih sama sehatnya.
2. Kecerdasan spiritual
Kecerdasan spiritual adalah sikap dan orientasi kepada sesuatu yang
transenden, suci dan memiliki makna yang dalam mengenai kehidupan
SQ atau spiritual Quotient adalah landasan yang diperlukan untuk
memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. SQ merupakan kecerdasan tertinggi kita.
Dalam ESQ, kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk member makna
spiritual terhadap pemikiran, perilaku kegiatan, serta mampu menyinergikan IQ,
EQ dan SQ secara komprehensif.
Dengan memiliki kecerdasan spiritual berarti kita memahami sepenuhnya
makna dan hakikat kehidupan yang kita jalani dan ke manakah kita akan pergi.
Contoh kasus adanya dimensi spiritualitas manusia.
1.
Demi KEYAKINAN yang dianut
dan SUARA HATI yang memanggil, manusia mengorbankan kenikmatan duniawi
Kasus Sufi, Biksu,
Pendeta
2.
Manusia mau membayar mahal
hanya untuk mendapatkan sebuah KETENANGAN
Kasus Kehampaan
Spiritual Masyarakat Kota Metropolitan
3.
Ketika manusia menemui penderitaan, kematian,
kesulitan dan jalan buntu ia MENGINGAT TUHAN dan MEMAKNAI HIDUP.
Fungsi spiritualitas.
Spiritualitas adalah kebutuhan manusia terhadap beberapa point berikut.
1.
Kebutuhan akan makna hidup.
Kebutuhan terhadap makna
dan hakikat hidup.
2.
Kebutuhan akan pedoman
hidup.
Kebutuhan terhadap Petunjuk
Menjalani Hidup (kebijaksanaan, integritas)
3.
Kebutuhan akan kekuatan
hidup.
Kebutuhan terhadap
Dukungan Kekuatan ketika Dilanda Krisis.
4.
Kebutuhan terhadap rasa aman
dan rasa tentram.
Karakteristik manusia
spiritual.
•
Makna hidup : Mudah menerima, mudah
beradaptasi.
•
Pedoman hidup : Memiliki visi dan misi, terfokus
pada pencapaian tujuan.
•
Kekuatan hidup : Tangguh menghadapi stressor hidup,
mempunyai rasa percaya diri tinggi.
•
Rasa tenteram : Menerima dengan lapang hati .Sabar,
bahagia, ikhlas.
Mengembangkan Kecerdasan Emosi dan Spiritual
•
Iman dan keyakinan
Penyerahan diri kepada Tuhan
diawali dengan keyakinan
•
Ketenangan dan keheningan
Ketenangan (khusyuk) adalah pengalaman
spiritual yg menjembatani kedekatan manusia dengan Tuhannya
•
Puasa
Puasa merupakan sarana
detoksifikasi, yaitu membuang racun tubuh dan kotoran hati
•
Beramal & Bersyukur-Sabar-Toleran
Khusyuk. Kekhusyukan akan
meningkatkan pengalaman yang menyejukkan
Dalam berbagai hasil
penelitian, telah banyak terbukti bahwa kecerdasan emosi memiliki peran yang
jauh lebuh signifikan disbanding kecerdasan intelektual (IQ). Kecerdasan otak
(IQ) bereperan sebatas syarat minimal meraih keberhasilan, namun kecerdasan
emosilah yang sesungguhnya menantarkan seseorang menuju puncak prestasi.
Terbukti bahwa banyak orang-orang yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi,
terpuruk di tenah persaingan. Sebaliknya banyak yang mempunyai kecerdasan
biasa-biasa saja, justru sukses menjadi bintang-bintang kinerja,
pengusaha-pengusaha sukses, dan pimpinan-pimpinan di berbagai kelompok. Di
sinilah EQ membuktikan eksistensinya. Lalu dimana posisi SQ?
Ketika seseorang dengan kemampuan EQ dan IQ nya berhasil mendaki
kesuksesan, acapkali ia disergap oleh perasaan ‘kosong’ dan hampa dalam celah
hatinya. Setelah porestasi puncak telah dipijak, ketika semua pemuasan
kebendaan telah diraih, setelah uang hasil usaha berada dalam genggaman, ia tak
lagi ahu kemana harus melangkah. Untuk tujuan apa semua prestasi itu diraihnya,
hingga tidak tahu dan tidak mengerti untuk apa ia hidup dan dimana ia harus
berpijak.
Kita sebagai seorang
pemimpin bagi diri kita sendiri, sebagai seorang anak dari orang tua kita,
sebagai seorang mahasiswa di Universitas Diponegoro, serta seorang pengikut
dari agama dan kepercayaan kita, sebaiknya menetapkan unsur-unsur atau komponen
dasar dari ESQ ini. Setiap kita bertingkah laku, bertutur kata, dan berpikir
serta berkontribusi dalam posisi dan tanggung jawab sesuai dengan peran kita
masing-masing. Ketika dirumah sebagai anak, ketika dikampus sebagai mahasiswa
dan sebagainya, ESQ merupakan panduan yang tepat bagi kita untuk melangkah dan
merupakan pedoman hidup untuk mencapai tujuan kita sesuai dengan “siapa aku?”
dalam peran kita masing-masing.
Ukuran tubuhmu tidak penting. Ukuran otakmu cukup penting.
Tapi ukuran hatimu itulah yang lebih penting.
-BC Gorbes-
“Tiadakah mereka mengembara dimuka bumi,
sehingga mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka mengerti,
dan mempunyai telinga yang dengan itu mereka mendengar? Sungguh,
“bukanlah matanya
yang buta, tetapi yang buta ialah hatinya, yang ada dalam (rongga)
dadanya.”
Q.S. Al Hajj (Haji) 22 : 46
Tidak ada komentar:
Posting Komentar