Senin, 18 Juni 2012

Puisi . . .


Diam Tanpa Koma . . .


Kau bilang, kau muak dengan puisiku
Maka aku diam.
Kau bilang, kau bosan dengan kalimatku
Maka aku diam tak bicara.
Kau bilang, kau lelah dengan kata
Maka aku diam tanpa bahasa
Kau bilang, kau enggan mendengar
Maka aku diam tanpa koma.

Aku hanya menatapmu
Seperti yang kau mau,
Diam.

Melihatmu berkeluh kesah,
Tanpa komentar, aku tetap hanya diam.
Hingga kau lelah,
Lalu ikut terdiam.

Sejenak hanya ada satu kata,
Diam.

Lalu kau bilang,
Sepi tanpa kata.
Aku tetap diam.
Kau bilang, kau rindu suaraku...
Aku diam membentuk sebuah senyuman
Kau bilang, tak tahan melihatku yang diam

Aku pun seperti yang kau mau,
Tak lagi diam.
Puisi yang sedikit jenaka membuka kedua bibir yang tak tahan lagi untuk melepaskan katup.

Puisi itu...
Puisi ini.

Puisi diam tanpa koma
Yang membuat ringai tak percaya, gembira, di wajahnya..

Puisi yang membuat kau tertawa,
Aku hanya membalasnya dengan senyum tanpa dosa.

Dan benar...
Diam itu tanpa koma,
Karena tak ada huruf yang memulainya.

Masih muakkah ?


 
Ujung keraguan . . .



Semuanya telah berlabuh
Dan disini...
Ku masih saja berlayar di laut ragu
Menyusun setiap luka yang semakin membuatnya perih

Biarlah...
Toh, aku menikmati kebingungan ini

Kepasrahan yang tak bertepi
Karena sebuah keyakinan yang terlalu dalam terpatri,
Allah yang Maha Mengetahui
Sang Tahu semua isi hati...

Biarlah...
Toh,aku menikmati kebingungan ini

Jadi berhentilah menghakimi.
Tak ada yang berhak menjadi seorang hakim..
Karena usaha seseorang bukan hanya untuk sepasang mata.
Mengadili sekalipun rasa yang kau sendiri tak mengerti...
Ngerti ?!

Biarlah,
Toh aku menikmati kebingungan ini

Cerita-Nya lebih indah dari cerita yang kuharapkan
Meski itu sungguh membuatku semakin sedih

Toh,Allah ujung dari semua ragu di muka bumi..

Toh...

Toh.

.

...
...

Tetap saja sakitnya sampai ulu hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar